BOOKS IN MY LIFE (part two)
Bagaimana isi buku dapat mempengaruhi kita?
Menjadi lebih rileks, lebih berwawasan, atau lebih memotivasi?
Atau (meminjam istilah ABG) malah bikin BeTe?
Bagi seorang pecinta buku, hal-hal diatas sama menariknya. Bertemu buku yang bikin BeTe juga pernah saya alami, sehingga baru membaca beberapa halaman, langsung ditutup dan segera berganti buku. Seringkali menarik tidaknya isi sebuah buku, tergantung dari penulisnya, atau penerjemahnya jika buku itu saduran. Beberapa buku yang sebenarnya punya tema menarik tetapi karena gaya penulisan atau penerjemahan yang kurang komunikatif, membuat pembaca tidak dapat menangkap makna dan isi yang ingin disampaikan. Biasanya, jika terlanjur membaca buku seperti ini, saya mencatat siapa pengarang atau penerjemahnya, dan selanjutnya menghindari membeli dan membaca buku-buku yang ditulis atau diterjemahkannya.
Buku-buku yang isinya berupa cerita dan seringkali berjenis fiksi, biasanya menciptakan efek relaksasi atau memberi rasa senang, mengurangi stress akibat aktifitas rutin dan, membawa kita sejenak pada dunia yang berbeda melalui imajinasi yang tercipta. Saya biasanya membaca buku jenis ini setelah pulang kerja dan lepas dari kemacetan Jakarta, sambil menunggui anak-anak belajar. Novel-novel Sci-Fi dari Michael Crichton, Supernova-nya Dewi Dee Lestari, dan Legal-Thriller dari John Grisham dan Philip Margolin adalah sebagian novel fiksi favorite saya.
Bertambah usia seseorang, dan seiring meningkatnya kebutuhan aktualisasi diri dan pencarian makna kehidupan, buku-buku yang sifatnya memotivasi dan menginspirasi biasanya lebih disukai. Buku-buku jenis ‘how-to’ dan self development bersifat membantu pembaca meningkatkan kemampuannya dalam suatu bidang, misalnya tulisan-tulisan Dale Carnegie tentang kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, Robert T. Kiyosaki tentang manajemen financial, buku-buku “don’t sweat...”, “chicken soup for...” dan lain-lain. Dari dalam negeri, antara lain, saya suka membaca tulisan-tulisan Andrias Harefa dan Hernowo tentang dunia tulis-menulis dan tulisan-tulisan Ratna Megawangi tentang pendidikan anak.
Selain itu tulisan-tulisan non-fiksi yang bersifat visioner dapat membuka wawasan kita untuk lebih memahami kemajuan teknologi dan pengaruhnya terhadap cara hidup dan cara berfikir manusia dimasa kini dan dimasa datang. Tulisan-tulisan Stephen Hawking tentang makro kosmos dan fisika modern, Yohannes Surya tentang fisika populer dan tulisan-tulisan visioner tentang manajemen dan teknologi informasi dari Mochtar Riadi adalah beberapa contoh buku dari jenis ini.
Bacaan yang bersifat spiritualpun sangat saya sukai, terutama yang dapat memberi inspirasi, membuka mata hati, sarat dengan berbagai pesan moral, dan mempengaruhi kehidupan kita secara positif . Beberapa bacaan klasik yang telah menjadi international best seller dan dapat saya rekomendasikan diantaranya adalah Dunia Sophie (Jostein Gaarder), Little Prince (Antoine de Saint Exupéry), dan Sang Alkemis (Paulo Coelho). Penulis-penulis lain yang cukup produktif dalam jenis tulisan ini dan karyanya saya sukai adalah Gede Prama, Arvan Pradiansyah, Anand Khrisna, AA Gym, dan Eaknath Easwaran.
Selain jenis-jenis bacaan di atas, sebagai seorang ibu dari dua putri yang mulai remaja, saya kira perlu juga memilih, mengarahkan, dan ikut juga membaca bacaan-bacaan remaja untuk anak-anak di rumah. Hal ini merupakan salah satu usaha memahami dunia mereka, menjadi jembatan komunikasi, dan dapat juga menjadi bahan diskusi dengan anak-anak. Untuk jenis ini, novel Harry Potter, buku cerita karangan Jaqueline Wilson, dan buku-buku self-development untuk remaja juga menjadi favourite saya.
Begitu banyak bacaan dan tersedianya waktu untuk membaca adalah salah satu karunia dari Tuhan yang dapat kita manfaatkan secara positif. Namun, membaca dalam arti luas tidak hanya terikat pada rangkaian teks pada buku dan tulisan, karena kemampuan kita membaca segala peristiwa kehidupan, membaca pertanda dari Tuhan, dan belajar dari orang lainpun adalah makna sesungguhnya dari membaca. Membaca dengan mata kepala disertai dengan mata hati akan lebih efektif mempengaruhi kehidupan menjadi lebih baik dan berkualitas.
Selamat Membaca! :)
Bagaimana isi buku dapat mempengaruhi kita?
Menjadi lebih rileks, lebih berwawasan, atau lebih memotivasi?
Atau (meminjam istilah ABG) malah bikin BeTe?
Bagi seorang pecinta buku, hal-hal diatas sama menariknya. Bertemu buku yang bikin BeTe juga pernah saya alami, sehingga baru membaca beberapa halaman, langsung ditutup dan segera berganti buku. Seringkali menarik tidaknya isi sebuah buku, tergantung dari penulisnya, atau penerjemahnya jika buku itu saduran. Beberapa buku yang sebenarnya punya tema menarik tetapi karena gaya penulisan atau penerjemahan yang kurang komunikatif, membuat pembaca tidak dapat menangkap makna dan isi yang ingin disampaikan. Biasanya, jika terlanjur membaca buku seperti ini, saya mencatat siapa pengarang atau penerjemahnya, dan selanjutnya menghindari membeli dan membaca buku-buku yang ditulis atau diterjemahkannya.
Buku-buku yang isinya berupa cerita dan seringkali berjenis fiksi, biasanya menciptakan efek relaksasi atau memberi rasa senang, mengurangi stress akibat aktifitas rutin dan, membawa kita sejenak pada dunia yang berbeda melalui imajinasi yang tercipta. Saya biasanya membaca buku jenis ini setelah pulang kerja dan lepas dari kemacetan Jakarta, sambil menunggui anak-anak belajar. Novel-novel Sci-Fi dari Michael Crichton, Supernova-nya Dewi Dee Lestari, dan Legal-Thriller dari John Grisham dan Philip Margolin adalah sebagian novel fiksi favorite saya.
Bertambah usia seseorang, dan seiring meningkatnya kebutuhan aktualisasi diri dan pencarian makna kehidupan, buku-buku yang sifatnya memotivasi dan menginspirasi biasanya lebih disukai. Buku-buku jenis ‘how-to’ dan self development bersifat membantu pembaca meningkatkan kemampuannya dalam suatu bidang, misalnya tulisan-tulisan Dale Carnegie tentang kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi, Robert T. Kiyosaki tentang manajemen financial, buku-buku “don’t sweat...”, “chicken soup for...” dan lain-lain. Dari dalam negeri, antara lain, saya suka membaca tulisan-tulisan Andrias Harefa dan Hernowo tentang dunia tulis-menulis dan tulisan-tulisan Ratna Megawangi tentang pendidikan anak.
Selain itu tulisan-tulisan non-fiksi yang bersifat visioner dapat membuka wawasan kita untuk lebih memahami kemajuan teknologi dan pengaruhnya terhadap cara hidup dan cara berfikir manusia dimasa kini dan dimasa datang. Tulisan-tulisan Stephen Hawking tentang makro kosmos dan fisika modern, Yohannes Surya tentang fisika populer dan tulisan-tulisan visioner tentang manajemen dan teknologi informasi dari Mochtar Riadi adalah beberapa contoh buku dari jenis ini.
Bacaan yang bersifat spiritualpun sangat saya sukai, terutama yang dapat memberi inspirasi, membuka mata hati, sarat dengan berbagai pesan moral, dan mempengaruhi kehidupan kita secara positif . Beberapa bacaan klasik yang telah menjadi international best seller dan dapat saya rekomendasikan diantaranya adalah Dunia Sophie (Jostein Gaarder), Little Prince (Antoine de Saint Exupéry), dan Sang Alkemis (Paulo Coelho). Penulis-penulis lain yang cukup produktif dalam jenis tulisan ini dan karyanya saya sukai adalah Gede Prama, Arvan Pradiansyah, Anand Khrisna, AA Gym, dan Eaknath Easwaran.
Selain jenis-jenis bacaan di atas, sebagai seorang ibu dari dua putri yang mulai remaja, saya kira perlu juga memilih, mengarahkan, dan ikut juga membaca bacaan-bacaan remaja untuk anak-anak di rumah. Hal ini merupakan salah satu usaha memahami dunia mereka, menjadi jembatan komunikasi, dan dapat juga menjadi bahan diskusi dengan anak-anak. Untuk jenis ini, novel Harry Potter, buku cerita karangan Jaqueline Wilson, dan buku-buku self-development untuk remaja juga menjadi favourite saya.
Begitu banyak bacaan dan tersedianya waktu untuk membaca adalah salah satu karunia dari Tuhan yang dapat kita manfaatkan secara positif. Namun, membaca dalam arti luas tidak hanya terikat pada rangkaian teks pada buku dan tulisan, karena kemampuan kita membaca segala peristiwa kehidupan, membaca pertanda dari Tuhan, dan belajar dari orang lainpun adalah makna sesungguhnya dari membaca. Membaca dengan mata kepala disertai dengan mata hati akan lebih efektif mempengaruhi kehidupan menjadi lebih baik dan berkualitas.
Selamat Membaca! :)



